Propinsi Jawa Timur yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini dihuni masyarakat yang majemuk, Hal ini membuat berbagai macam tradisi banyak ditemui di propinsi yang memiliki penduduk sekitar 40 juta jiwa ini. Misalnya saja, tradisi upacara yadnya kasada di suku Tengger, Probolinggo, maupun tradisi lainnya.
Kabupaten Tulungagung misalnya. Kabupaten yang berbatasan dengan Trenggalek dan Kediri ini, masih memegang erat berbagai macam tradisi. Bahkan, ada banyak tempat keramat yang diyakini memiliki mitos tertentu menyebar hampir semua sudut kecamatan.
Bicara soal tempat keramat, untuk edisi kali ini, Indosuara akan mengupas mitos di kompleks pemakaman yang ada di desa Ngujang, kecamatan Kedungwaru, kabupaten Tulungagung.
Sepintas pemakaman yang dikenal sebagai makam Ngujang ini, tidak berbeda jauh dengan pemakaman pada umumnya. Makam yang terletak di sebelah jalan raya ini memiliki dua kompleks pemakaman. Yakni pemakaman umum dan bong atau makam khusus untuk masyarakat etnis Tionghoa.
Perbedaan akan bisa terlihat, saat berada di kompleks pemakaman umum yang terletak di sebelah kanan dari jalan ke arah pusat kota. Di area pemakaman tersebut terdapat banyak monyet yang berkeliaran. Dari mitos yang berkembang, monyet ini bukanlah monyet biasa, karena diyakini sebagai jelmaan manusia.
Hikayat Makam Ngujang
Makam Ngujang, memang sudah dikenal banyak orang sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Tapi apakah mereka juga tau tentang cerita asal soal pesugihan makam Ngujang.
Dari penjelasan Mbah Slamet, salah satu sesepuh setempat mengisahkan berdasar cerita turun temurun. Makam Ngujang berkaitan dengan kisah sebuah pondok pesantren yang ada di desa Ngantru yang letaknya tak jauh dari Desa Ngujang.
Pada suatu hari, ada dua orang santri, laki-laki dan perempuan dari pondok tersebut yang bemain-main di sekitar makam. Dahulu tempat tersebut bukanlah makam, melainkan tempat biasa yang rindang karena banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di tempat itu.
Dua santri itu sengaja membolos dari pengajian untuk bermain-main di situ. Mereka bermain sambil memanjat pohon yang ada di situ. Karena asyik bermain mereka lupa kalau ada pengajian pada hari itu. Mereka tidak datang dalam acara pengajian yang rutin diadakan pondok.
Tiba-tiba seorang kyai dari pondok tersebut datang ke tempat tersebut dan bertemu dua santri tersebut. Kedua santri itu sedang memanjat pohon ketika pak kyai datang. Melihat ada dua santrinya yang tidak mengikuti pengajian, sang kyai pun menegur dua santrinya itu.
“Nduk.. le.. kowe opo ora ngaji to le? Kae lho deloken konco-koncomu podo ngaji neng pondok. Kowe kok malah penekan neng kene. Kayak kethek ae!” (Nak, kamu tidak ikut ngaji? Lihat teman-teman kamu sedang mengaji di pondok. Kamu kok malah memanjat pohon di sini. Seperti monyet saja!)
Menurut legenda, kata-kata kyai itu adalah kutukan bagi dua santrinya itu. Kedua santri itu konon menjadi monyet yang hidup di sekitar makam desa Ngujang. Monyet yang sering dijumpai di sekitar makam desa Ngujang adalah keturunan dari dua santri yang dikutuk menjadi monyet oleh kyai pondok tersebut. Sejak saat itu, desa itu disebut sebagai desa Ngujang yang berasal dari kata pawejangan yang artinya tempat menuntut ilmu (pondok).
Pesugihan Ngujang
Mbah Slamet, salah satu sesepuh setempat mengakui kalau monyet tersebut adalah jelmaan manusia, yang mengabdi atau menjadi pengikut dari penghuni makam Ngujang. Menurut Slamet, monyet ini merupakan tumbal pesugihan. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak, yang sengaja dikorbankan oleh orang tuanya, agar bisa merasakan kekayaan.
Jumlah monyet ini sendiri, imbuh Slamet, tidak pernah berkurang dari 100 ekor. Kalau ada “penghuni” atau monyet baru, ada beberapa diantaranya yang hilang tanpa diketahui keberadaannya.
“Monyet Ngujang memang unik. Jumlahnya tidak pernah lebih dari 100 ekor. Setiap ada yang baru, selalu saja ada yang pergi,” ujar Slamet.
Slamet menambahkan, monyet yang hilang, biasanya akan mati sebagai tumbal pesugihan. Pasalnya, dari tradisi yang ada, sebelum nyawa yang dijadikan tumbal, anak-anak yang sengaja dikorbankan oleh orang tuanya, akan berubah dulu menjadi monyet.
Ritual mengharapkan pesugihan di makam Ngujang tidak terlalu berbeda dengan ritual-ritual di tempat lain. Masyarakat yang menginginkan kekayaan, hanya perlu datang sambil membawa beberapa persyaratan, seperti kemenyan, bunga, dan kain kafan. Selanjutnya, setelah semua persyaratan terkumpul, maka ritual pesugihan sudah bisa dilakukan.
Dengan didampingi sang juru kunci, pengunjung bisa mengutarakan keinginannya kepada penghuni gaib, di makam Ngunjang. Jika disetujui, pengunjung bisa mengetahui persyaratan apa yang harus dipenuhi, setelah melihat air yang berisi bunga di dalam bak. Biasanya, dalam air ini akan muncul wajah anak yang harus ditumbalkan.
Setelah proses ritual selesai, pengunjung sudah bisa kembali dan menunggu kekayaan seperti yang dijanjikan. Mbah Slamet mengatakan, tak butuh waktu lama bagi pengunjung untuk bisa menikmati kekayaan atau pesugihan. Paling lama hanya dibutuhkan waktu sekitar 3 – 6 bulan.
Usai menikmati pesugihan, pengunjung harus menepati janjinya dengan membawa anak yang dijadikan tumbal ke makam Ngunjang. Setelah membawa anak yang dimaksud ke lokasi makam Ngunjang, biasanya anak tersebut langsung berubah menjadi monyet dan wajib tinggal di makam Ngunjang, sampai batas waktu yang telah ditentukan. Jika waktunya tiba, anak yang sebelumnya berubah menjadi monyet itu, akan hilang dengan sendirinya.
Pengunjung yang sudah terkabul permohonannya, juga diwajibkan untuk menggelar syukuran di makam Ngujang setiap malam 1 Suro. Selain diikuti oleh pengunjung yang lain, syukuran itu biasanya akan diikuti juga oleh monyet-monyet yang ada di kompleks makam Ngujang.
Bahaya Pesugihan
Meski mampu mendatangkan limpahan harta secara instan, masyarakat dihimbau untuk tidak mudah tertarik. Ki Ageng Satria, paranormal asal Surabaya mengatakan, pesugihan adalah bentuk tipuan yang dilakukan makhluk gaib kepada manusia. Pasalnya, harta yang diambil atau yang dirasakan oleh pelaku pesugihan, adalah harta yang seharusnya dimiliki oleh anak cucu mereka.
“Ini yang tidak disadari masyarakat. Sesungguhnya harta yang diambil adalah hak dari anak cucu mereka,” terang Ki Ageng Satria.
Selain merampas hak anak cucu mereka, pelaku pesugihan juga akan merasakan penyesalan yang luar biasa. Terlebih bagi mereka yang sudah terikat kontrak dengan makhluk gaib. Selain akan kehilangan anak sebagai tumbal, pelaku pesugihan juga terancam nyawanya, apabila melanggar perjanjian atau kesepakatan pada saat ritual.
Menurut Ki Ageng, hal ini sudah sering terjadi pada pelaku pesugihan yang datang minta tolong padanya. Bagi mereka yang sudah terlanjur dalam perjanjian, biasanya bisa dibatalkan, dengan catatan anak yang ditumbalkan dikembalikan, namun dengan kondisi tidak normal. Atau kekayaan yang dimiliki oleh pelaku pesugihan ditarik kembali.
“Dalam beberapa kasus, hal ini sering terjadi. Itupun dengan catatan, kalau makhluk gaibnya mau menerima,” cetus Ki Ageng.
Ki Ageng menyarankan kepada masyarakat untuk tidak mudah terkecoh oleh iming-iming kekayaan. Menurutnya, lebih baik hidup sederhana daripada bergelimang harta, namun dari cara yang tidak benar. (Yovinus Guntur W)







