Foto dokumentasi Indosuara
Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Ponorogo, Jawa Timur, mengaku tidak mendapat pendampingan dari majikannya saat menjalani perawatan selama satu bulan di rumah sakit di Taiwan akibat infeksi liver.
PMI bernama Eny Nuryanah itu mengatakan kepada Indosuara bahwa dirinya tiba-tiba mengalami demam tinggi disertai nyeri hebat dan menggigil pada 31 Mei saat bekerja merawat seorang pria muda penyandang kelumpuhan. Dalam kondisi tersebut, ia keluar sendiri dari apartemen untuk mencari pertolongan hingga akhirnya dibantu petugas keamanan setempat untuk memanggil taksi menuju Rumah Sakit Mackay Memorial di kawasan Shuanglian, Taipei.
Eny mengatakan ia datang ke unit gawat darurat (UGD) tanpa didampingi siapa pun. Saat itu suhu tubuhnya mencapai 39 derajat Celsius dan dokter menyatakan kondisinya cukup serius hingga berisiko mengancam jiwa.
Selama menjalani perawatan, demam Eny tidak kunjung turun selama 10 hari. Menurut dokter yang merawatnya, infeksi umumnya hanya menyebabkan demam tinggi selama dua hingga tiga hari. Eny kemudian mendapat suntikan antibiotik setiap hari.
Ia menjalani perawatan selama lima hari di UGD dan 25 hari di ruang rawat inap sehingga total dirawat selama 30 hari. Selama masa tersebut, menurut Eny, majikannya tidak pernah menghubungi maupun menjenguknya.
Eny keluar dari rumah sakit pada 29 Juni dan kini tinggal di mes agensinya sambil menunggu kepastian kepulangannya ke Indonesia.
Ia mengaku tidak mengetahui besaran biaya pengobatan karena tidak memiliki uang. Selama menjalani perawatan, biaya rumah sakit dibayarkan terlebih dahulu oleh pihak agensi.
“Saya tidak tahu mengenai biaya pengobatan ini. Saya sama sekali tidak punya uang. Setiap kali gajian, saya kirim ke Indonesia karena saya punya 2 anak yang kuliah dan butuh biaya. Saya hanya orang tua tunggal dan tulang punggung keluarga,” ujar Eny yang bekerja di Taiwan selama 14 tahun ini.
Eny berharap, ia dapat pulang ke Indonesia segera karena di Taiwan tidak ada orang yang merawatnya. Namun, Eny menambahkan, ia pun bingung dengan biaya kepulangannya karena ia tidak punya uang sama sekali.
“Semoga saya diberi jalan keluar, ada bantuan.” Ujar Eny menanggapi.

Indosuara Peduli pada Minggu 5 Juli mengunjungi Eni yang kini tinggal di kantor agensinya. Eny sudah seminggu tidur di sofa ruang tamu agensinya karena tidak ada mess. Indosuara memberikan bantuan agar Eny bisa membeli tiket pesawat.
Bagi pembaca yang ingin memberikan bantuan silahkan hubungi +886981-189-496.





