Foto diambil dari Taiwan Literature Awards for Migrants and Monomyth.
Dalam unggahan Facebook-nya, TLAM menyebut karya Chin dengan judul “Titik Hitam Seorang Rika" menceritakan perbedaan budaya dengan menggunakan tato sebagai kiasan untuk membangun karakter dalam cerita tersebut.
Chin Nyap Fong (陳業芳) seorang immigran asal Indonesia meraih juara satu dalam Penghargaan Sastra Migran (TLAM) kesembilan pada hari penganugerahan yang digelar di New Taipei, Minggu (13/10).
Penulis Taiwan, Chang Da-Chun (張大春) yang menjadi juri menilai bahwa keunggulan dari karya ini adalah bagaimana seorang migran di Taiwan menemukan dirinya dengan metafora tato sebagai sesuatu yang positif serta menulis tentang proses bagaimana seseorang yang kesepian menemukan teman dan identitas dirinya.
Juara pertama memenangkan hadiah piala dan uang tunai NT$150 ribu (Rp72 juta) dan karyanya berkesempatan dikembangkan menjadi karya film atau drama televisi.
Selain itu pemenang kategori penghargaan juri mendapatkan piala serta uang tunai NT$80 ribu. Sementara untuk pemenang kategori pilihan mendapatkan piala dan uang tunai NT$20 ribu.
Perintis penghargaan TLAM, Chang Cheng (張正) saat hadir dalam upacara penghargaan hari Senin (14/10) menyatakan bahwa penghargaan ini adalah kompetisi sastra multibahasa, di mana peserta menulis dalam bahasa ibu mereka, dan kemudian diseleksi oleh juri yang berbicara bahasa yang sama.
Daftar finalis kemudian diterjemahkan oleh tim penerjemah masing-masing negara, dan pemenang akhirnya dipilih dewan juri final berbahasa Mandarin, ujarnya. Penanggung jawab persiapan penghargaan ini yang sekaligus General Manager Monomyth Co., Hsieh Yi-yun (謝易芸) mengatakan bahwa para pekerja migran dari Asia Tenggara yang datang jauh-jauh ke Taiwan tidak hanya membawa harapan dan beban keluarga mereka, tetapi juga memberikan kontribusi yang tak terelakkan bagi perkembangan ekonomi dan sosial negara tersebut.
Penghargaan Sastra Migran (TLAM) adalah anugerah sastra tahunan yang memberikan penghargaan pada karya sastra dari migran baru dan pekerja migran. Dikutip dari laman TLAM, Taiwan hari ini memiliki sekitar 500 ribu pekerja migran yang kebanyakan berasal dari Asia Tenggara dan 200 ribu migran baru karena pernikahan, serta 300 ribu migran baru generasi kedua. Budaya dan pengalaman hidup yang mereka dapatkan di Taiwan seringkali mereka ceritakan dalam tulisan yang menarik untuk dibaca.
Acara ini digagas untuk mengajak dan meninggalkan sejarah yang bernilai melalui tulisan bagi generasi Taiwan di masa mendatang. Menurut penyelenggara ada 208 karya masuk tahun ini dan paling banyak yakni 77 di antaranya berasal dari peserta Indonesia. Sementara lainnya adalah 56 karya dari peserta Vietnam; 47 dari peserta Filipina; 19 karya dari peserta Thailand; dan 19 karya dari Myanmar.








